Senin, 19 Februari 2018

From No Body to be Some Body


Saya I Made Sutama, Bermodalkan ijazah SMP dengan nilai pas pasan plus kenekatan berpetualang ke kota Yogyakarta.

Diawali dengan niat dan perjuangan  untuk melanjutkan sekolah di SMA maka melamarlah sekolah dari sekolah negeri yang pavorit hingga yg biasa dari SMA swasta yang terkenal sampe yg kurang terdengar, namun hasilnya satupun gak ada yang nyangkut. Kesulitan utama yang Saya hadapi adalah di Bali Saya masih belajar aljabar padahal di Yogyakarta semua test masuk SMA dengan Matematika. 

Kakak iparku (alm) mendapatkan informasi kalo ada sekolah namanya Sekolah Menengah Pendidikan Sosial (SMPS) Tarakanita, dan memintaku untuk mencoba melamarnya, karena akhirnya memutuskan yang penting dapet sekolah, maka SMPS menjadi pilihan terakhir dan kebetulan diterima.

Saya tidak paham sekolah apa itu, yang penting sekolah. Keterbatasan ekonomi, memaksa aku harus tinggal dekat sekolah, ternyata sekolahan tersebut menyediakan asrama khusus putra yang dikelola oleh seorang Romo Bule. Dalam  hatiku bertanya " Romo itu apa, kok ya Londo ngapain dia ngurusin sekolah SMPS, ? makin kaget lagi masuk sekolah ada Suster pake krudung putih galaknya nemen, opo maneehh iki ?? Ah embuhlah yang penting dapet sekolah dan asrama untuk tidur.

Bulan berjalan, akhirnya Saya nunggak gak bisa bayar asrama dua bulan, maklum aku adalah seorang anak dari orangtua buruh tani yang tidak sekolah, Bapak bisa membaca dengan terbata bata, tapi Ibu gak bisa blas, tapi menghitung jumlah dan kali jago karena itu dia berdagang kecil2an di Bali.

Romo memanggilku mengapa terlambat membayar, dengan cerita di atas akhirnya Saya dapat gratisan gak perlu bayar Asrama dan dapet makan lagi, wèeenak tenan, sehingga aku bisa fokus belajar dan belajar.Akhirnya Saya lulus dengan predikat juara umum, kehidupan di asrama, sekolah di SMPS, pergaulan, praktek di komunitas, berorganisasi, bimbingam dari Romo dan para Suster serta para Guru Guru telah menanamkan nilai nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab, kerja keras dalam melayani sesama.

Pada saat lulus Saya ditanya oleh Romo, apa cita citamu ? Saya pengin jadi orang kaya Romo, Terus ? Saya mau lanjut kuliah, katanya kalo ingin jadi orang kaya kuliah akuntansi biar bisa jadi akuntan publik, tapi gak ada universitas yg bisa terima kamu kuliah di ekonomi apalagi akuntansi ? Trus bagaimana dengan biaya kuliah ? Saya harus coba di Sanata Dharma Romo, kalo keterima soal biaya saya cari sambil mbecak Romo.

Singkat cerita, dengan perjuangan dan bantuan Suster Hermin dan Romo Kieser serta Romo Block, Saya bisa kuliah, lulus tepat waktu. Pada saat kuliah tahun kedua ditugaskan oleh Romo Kieser dan Suster Theresella untuk sekaligus mengelola Asrama Putra Baciro. Begitu lulus Saya dihadapkan pada dua pilihan kerja sebagai staff keuangan di Majalah Basis dengan gaji Rp 350,000 atau menjadi tenaga relawan di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di Solo dengan uang saku Rp 20,000 per bulan.

Rupanya uang tidak menjadi pertimbangan utama, nilai nilai sosial yang kudapatkan di SMPS mungkin menjadikan semesta membawaku memilih menjadi relawan di LSM yang baru dibentuk oleh salah satu karyawan Yayasan Indonesia Sejahtera.  Sebuah mimpi untuk menjadi orang kaya tidak lagi menjadi pertimbangan utama.

Meniti karir di dunia LSM penuh perjuangan, mulai dari lokal, nasional hingga internasional  yang akhirnya berlabuh di lembaga perserikatan bangsa bangsa UNICEF lebih dari 25 tahun. Dalam perjalanan karirku selalu menempa diri untuk selalu belajar, dan belajar dari mana dan dengan siapa saja. Teringat selalu pesan orangtuaku, " terus sekolah sampai sekolahannya habis " jangan seperti kami yang tidak sekolah sehingga menjadi tidak tahu apa apa. Bekerja sambil sekolah untuk menyelesaikan S2, karena masih ada sekolah S3 maka aku ambil juga walaupun hingga tulisan ini dibuat sekolahku belum selesai. Saya telah dikarunai satu istri tiga orang anak yang semuanya masih sekolah.

Pada usiaku 55 Aku telah mengambil keputusan berat melalui puasa 10 hari, sebagai karyawan tetap apakah harus pensiun dini atau pensiun hingga usia 62 di UNICEF. Lagi lagi semesta membisikkan aku memilih pensiun dini, menikmati pensiun, sambil sekolah dan berbagi pengalaman serta ilmu dengan yang membutuhkan melalui karya sebagai konsultan dibidang Strategic Human Resource Development and Training.

Semesta tidak pernah berbohong, sekolahku di SMPS telah memberikan fondasi karya karyaku di bidang sosial, sekolahku di Sanata Dharma mengajarkan ilmu dan teknik untuk berbagi ilmu dan pengalaman melalui melatih, sekolahku S2 memberikan ilmu tentang bagaimana menjadi manajer dan pemimpin yg baik serta memberikan wawasan global dan sekolahku S3 sekarang memberikan ilmu banyak sekali tentang manajemen dan pentingnya membangun sumber daya manusia sejak dini.

Perjalanan hidup dan pengalaman panjang, memberi banyak pelajaran bahwa life is all about choice (hidup adalah pilihan), begitu memilih bertanggungjawablah dengan penuh kejujuran, kedisiplinan, ketekunan dan tidak mudah menyerah, maka semesta akan membantunya mewujudkan pilihanmu.

Apakah cita citaku awal untuk menjadi orang kaya telah tercapai ? Yes Saya sekarang telah menjadi orang kaya ilmu dan pengalaman dan siap berbagi dengan siapa saja yang membutuhkan.
Suksma.

Sabtu, 27 Februari 2016

First two months living without boundries

My first two month living without bounfries of rules and regulation from any organization.

The rules is purely mynown rules that I establisehed based on the debate and discussion with self to reach the agreement. I realized that the self concept and its agreed rules become essential when fully our live under the leadership of self.

The understanding of self concept of mine, lead to more healthier and happiest live. The freedom is the atmost human being dream of their life.

Selasa, 08 Desember 2015

Good Bye UNICEF

Dear all my beloved coluegues and friends.

It is about reaching my 25 years of my learning journey with UNICEF Indonesia in Ujung Pandang, Nusa Tenggara Timur, East Timor, Central Java and then finally in East Java.

I learnt three things in UNICEF that are to LOVE every children, to  understand very well Child's RIGHT and to be RESPONSIBELITY for fulling, protecting, respecting as well as promoting child rights.

Today is my lastday in UNICEF, as I decided to take a break from this organization that I Love forever. It was not easy decision, but I believe that God has his own scenario of my life. I will keep  continue my learning and sharing of knowledge journey with others till then we meet again.

My BIG thanks to all of you who have been contributing to my life and career in UNICEF, especialy to my six different Representatives ( Anthony Kennedy, Steve J Woodhouse, Rolf Carrier, Steven Alen, Angela Kearney, Gunilla Alssons) and seven different supervisors ( Bijan Sharif, Roger Shrimpton, Khin Sandi Lwin, Yoshiteru Uramoto, Willem Standeart, Budi Subianto, Judith Bruno, and Marc Lucet). My great team when I was in Ujungpandang, Kupang, Timor Timur, Semarang and Surabaya, plus all collegues and freinds in UNICEF Jakarta and other Field Offices.

At the same time my apology from my heart to all UNICEF community for my wrong and bad things that I did, also especially for those who are disopoited with my performance as Chief of Field Office also as Chair of  staff Association.

To continue and maintain our relationship both as profesional and personal I can be reach through imdsutama@gmail and thank you all, till we meet again.

Best and Best ♢
Love, Right, and Responsibelity
I Made Sutama.